Manusia Berhati Malaikat

Banyak sekali blog yang telah memuat kisah nyata dari Bapak Suyatno ini. Tapi setelah blogwalking, dari sebuah situs saya menemukan bahwa kisah nyata ini bukan yang dialami sendiri oleh Bapak Eko Pratomo, yang saat ini merupakan presiden direktur PT Fortis Investments, salah satu manajer investasi (fund manager) terbesar di Indonesia yang mengelola reksadana dan berbagai portofolio investasi dari sejumlah perusahaan asuransi serta dana pensiun. Tetapi kisah ini dibaca dan menginspirasi beliau untuk merawat istrinya yang menderita penyakit Lupus. Dan beliau bersama istrinya, Dian Syarief telah menerbitkan sebuah buku Miracle of Love – Dengan Lupus Menuju Tuhan.

Eko Pratomo

Berikut kutipan comment-nya

ekp pratomo says:

Salam Saudaraku yang baik,
Dalam seminggu ini saya banyak menerima email, sms, BBm dari teman-teman yg mengenal saya. Mereka semua bingung dan menanyakan tentang kisah di atas. Nama saya Eko Pratomo, dan foto yang tertera di artikel di atas juga merupkan foto saya. Namun, kisah yang tertera di atas saya rasa kisah nyata dari Bapak Suyatno, bukan kisah mengenai diri saya.
Saya berumur 47 tahun, bukan 60 tahun, tidak memiliki putra/putri, seperti dicertitakan dalam kisah di atas.
Memang saya megmikiki istri, Dian Syarief, yang menyandang Lupus sejak 11 tahun yang lalu dan harus mengalami berbagai operasi besar (bedah otak, pengangkatan rahim, dll), hingga kehilangan penglihatan.
Perjuangan bersama istri menghadapi Penyakit Lupus saya tuangkan dalam buku betjudul “MIRACLE OF LOVE – DENGAN LUPUS MENUJU TUHAN”.
Membaca kisah Pak Suyatno, menambah motivasi saya untuk mengikuti jejak beliau, merawat istri saya. Saya rasa perlu sekali untuk meluruskan kisah sejati Bapak Suyatno dan mengoreksi kesalahan bahwa kisah diatas adalah Kisah Bapak Suyatno, bukan kisah Eko Pratomo Suyatno.
Demikian penjelasan dan koreksi dari saya dan saya memohon bantuan kepada Mas Adrian dan teman-teman lainnya untuk juga mengoreksi kesalahan di atas.
Terima kasih & salam,
eko pratomo

Kisah nyata dari beliau dapat dilihat di sini

Nah, berikut saya kutip kisah nyata dari Bapak Suyatno yang menginspirasi beliau. Mungkin kutipan saya ini adalah yang kesekianratuskalinya dari kutipan-kutipan yang telah mengutip kutipan ini *halah*. Tapi setiap kali membacanya saya selalu tersentuh, dan terkadang secara tidak sadar air mata saya pun mengalir *cengeng*. Berikut adalah kisahnya…

Sebuah Renungan,buat para calon suami….calon istri jg boleh baca..! Semoga Bermanfaat
terlampir kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV). Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.

“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis.

” Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.

Dear my friends, that’s a true story from someone who taught me about the important of investment three years ago. I wish i could be someone like him…to give all attention to family..i believe family is our precious thing..more than money or gold.

sumber

Untuk kesekian kalinya mata saya (akan) mengalirkan air mata. Tapi kali ini nggak sampai keluar :p.

Sejenak saya merenung. Masih adakah “Suyatno-Suyatno” lain saat ini? I wish i could be like him, menemani istri saya kelak saat suka maupun duka :)

3 thoughts on “Manusia Berhati Malaikat

  1. Pingback: Untuk Calon Suami dan Calon Istri « see you on top !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 261 other followers

%d bloggers like this: