kualat

Tiba-tiba terngiang kata itu. Sebenernya apa sih kualat itu?

Orang tua dulu–sebenernya sekarang juga sih–sering mewanti-wanti, jangan melawan/membantah orang tua, nanti kualat. Atau jangan berbicara seenaknya (baca: takabur) nanti kualat. Dan jangan-jangan lainnya. Saya menyimpulkan kalau “kualat” itu konotasinya selalu negatif. Dan barusan saya tanya mbah gugel juga munculnya “bad karma”. Hmm…

Dan.. Memang kualat itu ditujukan sebagai kejadian buruk yang akan menimpa kita jika kita berbuat/berkata sesuatu yang tidak baik. Dan.. Jujur aja, saya tidak menyangkal kalau saya pernah mengalaminya beberapa kali.
Contohnya: pernah suatu kali saya akan pergi kuliah sekaligus mengantar adik saya yang akan pergi sekolah. Waktu itu saya mengendarai motor. Karena terlambat, jadi persiapan dari rumah pun sudah cukup tergesa-gesa. Sewaktu akan pergi ibu berpesan, “jangan ngebut ya..”. Saya pun hanya diam sambil bersiap-siap dan menggumam dalam hati “kalau gak ngebut pasti telat dong”. Dan saya pun cium tangan ibu lalu berangkat.

Karena saya berangkat lebih siang dari biasa, lalu lintas pun lebih ramai. Macet. Tapi saya terus tancap gas dan meliuk-liuk. Bukannya mau pamer, tapi udah telat. Mengingat sekolah saya dulu masuk jam 6.30. Atau jam 7.00 ya? Lupa.. *murid yang payah =))*. Tidak disangka tiba-tiba di depan saya sebuah mobil Taft GT warna putih berjalan sangat lambat walaupun di jalur kanan. Saya yang asalnya berada di jalur kiri serentak kaget dan menginjak rem. Tapi terlambat. Saya pun menabrak bumper mobil depan dan adik saya terjungkal dengan sukses ke depan motor saya. Ada beberapa orang yang langsung menolong kami, dan banyak yang hanya menatap dengan prihatin. Alhamdulillah kami tidak apa-apa. Hanya motor sedikit lecet. Saya langsung terlintas perkataan ibu saya tadi sebelum berangkat. Hiiyy… Ngeri juga ya. Azabnya langsung terasa hanya dalam hitungan menit! Dan itu adalah kejadian yang paling mengena bagi saya terkait masalah kualat ini. Dan sekarang, kalaupun saya punya pertimbangan sendiri yang agak berlawanan dengan orang tua (baca: ibu), saya akan memberi penjelasan dulu, baru terakhir kita ambil keputusan bersama. Daripada mengumpat ga jelas. Satu yang jelas: Jelas-jelas kualat+dosa. Jadi mending win-win solution.

Saya masih penasaran masalah kualat ini. Nanti saya coba cari tahu lebih lanjut dulu deh. Tiba-tiba otak ngehang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: