Pengalaman Menjaga Anak

Off duty kemarin adalah waktu off paling melelahkan tapi seru. Paling bikin deg-degan sekaligus melegakan. Waktu libur yang membuat saya semakin menyadari bahwa jadi ibu rumah tangga itu adalah tugas yang sungguh mulia.

Di dalam rahim istri saya terdapat miom. Bahasa kedokterannya adenomyosis (kalau gak salah eja). Sebenarnya miom ini tidak berbahaya–kata dokter. Tetapi ini menyebabkan sakit yang luar biasa ketika istri saya mengalami menstruasi. Sebenarnya rasa sakit ketika haid ini sudah dirasakan dari dulu, tetapi baru diketahui bahwa itu disebabkan oleh miom sewaktu diperiksakan ke dokter kandungan awal pernikahan kami dulu. Dokter sudah mewanti-wanti kalau miom ini akan mengganggu proses kehamilannya nanti, tetapi beliau juga menenangkan bahwa ini tidak bahaya. Tapi tetep aja ya bikin waswas.. Dan benar saja, sewaktu istri saya hamil perkembangan janinnya kurang baik.Ukurannya lebih kecil daripada ukuran janin normal dengan usia kehamilan yang sama. Ditambah lagi ukuran miom istri saya semakin membesar. Sebenarnya kedua hal ini saling berkaitan karena asupan nutrisi yang alih-alih diserap oleh janin malah dicaplok oleh si miom ini. Kan ngeselin. Dan (mungkin) ini juga yang menyebabkan kondisi kehamilan istri saya menjadi Plasenta Previa Totalis. Kalo pengen tau lebih jelas browsing aja ya. Tapi intinya kondisi ini adalah kondisi dimana plasenta yang terletak di sebelah bawah rahim dan menghalangi jalan keluar si bayi nanti ketika melahirkan, padahal plasenta itu harusnya terletak di atas. Kondisi inilah yang menyebabkan akhirnya harus dilakukan SC alih-alih melahirkan normal. Padahal istri saya pengen banget bisa melahirkan secara normal.

Dari cerita sang dokter, waktu proses melahirkan sebenernya si miom udah di depan mata dan tinggal diambil aja. Tapi dengan susah payah si dokter menahan nafsu untuk mengambil miom itu dengan alasan resiko pendarahan yang apabila terjadi kemungkinan terburuknya adalah rahim istri saya harus diangkat. Si dokter sampai memperlihatkan foto miom di rahimnya setelah selesai operasi. Dan belakangan si dokter menjelaskan bahwa prosedurnya miom itu tidak boleh diangkat ketika proses melahirkan karena sewaktu proses melahirkan pembuluh-pembuluh darah ibu membesar dan jika dilakukan pengangkatan miom maka risiko terjadinya pendarahan sangat besar. Dokter juga menjelaskan telah ada kejadian dimana si dokter mengangkat miom pasien ketika proses melahirkan dan pada akhirnya rahim pasien harus diangkat karena terjadi pendarahan hebat.

Singkat cerita karena miom tersebut belum diangkat dan istri saya masih mengalami sakit ketika haid maka kami merencanakan waktu operasi pengangkatan miom tersebut, tentunya setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan. Akhirnya setelah membulatkan tekad dan mengumpulkan keberanian istri saya berniat menjalankan operasi pengangkatan miom itu setelah selesai periode haid bulan Maret ini. Dari konsultasi terakhir dengan dokter ditetapkan bahwa operasi jatuh pada hari Jumat tanggal 11 Maret 2016. Ya, operasi miom memang harus dilakukan segera setelah periode haid selesai. Saya pun menyesuaikan jadwal kerja agar ketika waktu operasi tiba saya sedang dalam posisi off-duty.

Fiuh ini baru intro. Panjang bener ya.

Waktu libur saya adalah 14 hari. Atau efektif 13 hari dikurangi perjalanan dari Badak-Bekasi. Ya, jadwal kerja saya adalah 14/14 alias 14 hari masuk dan 14 hari libur. Sungguh work-life balance. Kalau dihitung-hitung dalam setahun saya cuma kerja 6 bulan hahaha. Dan setelah menyesuaikan jadwal kerja saya akhirnya tiba waktu istri saya untuk operasi.

Sebenarnya sebelum operasi ini yang deg-degan malah saya. Istri saya mah tenang-tenang aja. Saya mendadak parno. Takut ini lah, takut itu lah. Takut terjadi pendarahan lah de el el. Waktu operasi pun tiba. Operasi dilakukan jam 4 sore, padahal jadwalnya jam 2. Singkat cerita, operasi pun berjalan lancar. Saya diperlihatkan miom hasil operasinya. Sepertinya berdiameter sekitar 5 cm. Ngeri juga. Akhirnya istri saya dibawa ke kamar perawatan untuk observasi dan istirahat.

Nah sebelum operasi keadaan anak saya yang lagi lutu-lutuna itu sedang kurang baik. Kaesar (nama anak saya) yang sekarang berusia 13 bulan sedang sakit flu. Dan sebelum operasi istri saya juga malah jadi stress. Gimana nggak, Kaesar yang biasa setiap hari pagi-siang-sore-malam bersama istri saya tiba-tiba harus ditinggal beberapa hari dengan kondisi yang sedang sakit pula. Lagi rewel-rewelnya. Apalagi saya juga harus menjaga istri saya di rumah sakit, dan otomatis saya gak bisa menjaga Kaesar juga. Rasanya pengen minta tolong Doraemon biar badan ini bisa membelah diri. Kaesar pun kami titipkan ke mertua saya. Karena rumah mertua dan rumah sakit relatif dekat jadi saya pun mudah untuk bolak-balik. Untungnya Kaesar relatif tidak rewel kalau sama sekali tidak melihat Mami/Papanya. Daripada udah sekali ngelihat malah jadi pengen nempel terus, mending jangan ngeliat sama sekali. Tapi karena kondisi tubuhnya sedang sakit ya rewel juga. Ditambah susah makan, komplit lah sudah.

Akhirnya di hari kedua istri saya dioperasi Kaesar saya ajak ke RS. Kasian juga istri saya udah kangen berat. Di rumah juga waktu saya pulang buat ambil keperluan istri Kaesar kelihatan kangen banget. Saya dateng langsung minta gendong. Dan kalau nangis keliatan banget kalo itu nangis sedih. Duh rasanya gimana gitu melihat anak seperti itu. Setelah sampai di RS benar saja, Kaesar malah menangis melihat istri saya. Tangis kangen, kelihatan sekali. Istri saya langsung memeluk dan menyusui Kaesar. Kaesar pun menyusu dengan lahap. Seperti orang yang udah gak minum berapa hari. Selesai menyusui Kaesar bermain-main di kamar RS. Kelihatan sekali dia sangat riang. Tapi tetap saja, saya tidak mungkin untuk mengajaknya menginap di RS. Sebenarnya boleh saja karena istri saya dirawat di kamar yang hanya berisi satu orang–yaitu istri saya sendiri. Tapi saya khawatir kalau malam dia nangis dan rewel, atau malah minta gendong istri saya. Wah berabe. Di malam kedua saya minta tolong ibu saya untuk menjaga Kaesar. Ibu saya pun menyanggupi. Beliau datang dari Bandung untuk membantu kami menjaga Kaesar untuk satu malam.

Setelah keluar dari rumah sakit barulah kami bisa berkumpul bersama lagi. Tapi istri saya masih harus banyak istirahat dan belum bisa menggendong Kaesar karena masih dalam masa pemulihan. Bahkan menyusui pun masih sulit karena dengan posisi miring bekas jahitannya masih terasa sakit. Jadi dalam beberapa hari sayalah yang mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang biasa dikerjakan istri. Yang paling menyita perhatian dan waktu adalah menjaga Kaesar. Mulai pagi ketika ia bangun saya langsung gendong keluar agar dia tidak merepotkan istri. Saya ajak jalan sebentar keluar sekaligus berjemur agar dahaknya lebih encer, lalu saya menyiapkan makan sekaligus menyiapkan air hangat untuk mandi. Setelah itu semua selesai maka waktunya bermain lagi sejenak. Waktu bermain pun saya tidak bisa lepas begitu saja. Bisa-bisa semua barang pecah. Juga apa yang dia pegang langsung masuk ke dalam mulutnya. Jadi memang harus diawasi setiap saat. Apalagi sekarang dia lagi senang-senangnya merangkak kesana-kemari. Jadi mau tidak mau saya harus mengikuti kemanapun ia pergi. Sekarang lagi di ruang tamu, liat hp bentar eh dia udah merangkak ke arah rak pajangan. Diangkat lagi menjauhi rak, meleng bentar eh udah jalan ke arah dispenser yang bagian air panasnya nyala. busyett.. bener-bener deh. Tidak berapa lama sepertinya ia kembali mengantuk. Dan memang waktunya tidur siang. Masalahnya kalau ada Maminya maunya tidur sambil disusui. Kalau nggak ya rewel. Karena istri saya belum bisa menyusui maka saya gendong-gendong saja terus sambil mengalihkan perhatiannya dari istri saya. Lama-lama tertidur juga. Lamaaaaa…… tapinya.

Bangun, waktunya makan siang dan rutinitas yang hampir sama seperti pagi. Makan, mandi, main-main, sampai malam. Itu baru dia doang lho, belum kalau saya mau solat, mandi, makan dll. Malam pun bocah yang satu ini hobinya begadang. Saban hari tidurnya di atas jam 12. Malah di hari pertama itu dia gak mau tidur entah kenapa. Mungkin karena mampet. Tidur sebentar, bangun lagi. Dan harus sambil digendong terus. Akhirnya saya gendong terus sampai jam 2 pagi. Itu pun gak bisa langsung ditaro. Kalau ditaro di kasur langsung bangun. Saya duduk pun dia langsung bangun dan nangis. Kayak tau aja saya mau duduk. Padahal sambil digoyang-goyang juga. Alhasil saya seperti itu terus sampai jam 2 pagi. Dan baru bisa diletakkan di kasur menjelang subuh.

Besoknya saya tepar.

Dan hari kedua pun berulang seperti itu, tapi istri saya udah mulai bisa menyusui walaupun masih sakit. Tapi setidaknya saya bisa beristirahat lebih dibandingkan hari sebelumnya.

Saya berpikir, saya aja satu hari udah kewalahan. Bagaimana dengan istri saya setiap hari menghadapi anak saya. Setiap hari pasti kurang tidur. Apalagi kalau saya lagi kerja. Memang kami masih tinggal di rumah mertua, tapi karena usia mereka yang sudah tua dan ibu mertua saya masih bekerja jadi mereka pun tidak bisa menggendong/menjaga Kaesar. Paling hanya titip sebentar saja ketika saya atau istri saya mau mandi, makan dll. Dan hebatnya istri saya jarang mengeluh. Ya paling-paling curhat kalau emang keadaannya lagi parah banget, wajar lah.

Di sini saya merasa bahwa ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan yang sungguh berat dan mulia. Sabar ya Mam, Insha Allah semua itu ada ganjarannya kalau Mami ikhlas :)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: